Kami tumbuh di dunia kopi.
Dari kebun, proses, sangrai, sampai cangkir. Sepanjang jalan itu, kami menemukan banyak hal yang ingin kami bagi di sini.
Tumbuh di tanah yang berbeda
Setiap tempat memberi kondisi yang berbeda bagi kopi. Tanah, ketinggian, iklim, dan cara manusia merawatnya. Dari sana, karakter sebuah kopi mulai terbentuk, jauh sebelum ia sampai ke cangkir.
Dirawat, bukan sekadar dipanen
Di balik setiap cangkir ada tangan yang merawat pohon, memilih buah, dan mengolah biji sampai karakternya keluar. Ada manusia, waktu, dan perhatian yang ikut sampai ke dalamnya.
Setiap kopi punya ceritanya
Ketinggian, varietas, cara olah, dan cara sangrai ikut membentuk karakter setiap kopi. Ada yang tegas, ada yang tenang, ada yang kompleks. Seperti orang.
Yang kamu bawa pulang dari secangkir kopi
Buat kami, kopi bukan cuma soal rasa. Ia adalah ruang kecil untuk berhenti sebentar, menikmati sesuatu dengan lebih pelan, dan mengolah pikir di tengah hari yang berjalan cepat.
Nama Ciptoning kami ambil dari Ciptoning Mintaraga, nama Arjuna dalam lakon ketika ia meninggalkan segala gelar dan bertapa di Gunung Indrakila.
Bagi kami, cipta adalah daya pikir, sementara ning adalah hening. Ciptoning menjadi cara kami memaknai ruang untuk memusatkan pikiran, berhenti sejenak, dan melihat sesuatu dengan lebih jernih.
Semangat itu yang kami bawa ke dalam kopi.
NGOPI, Ngolah Pikir.
Kalau kamu ingin melihat apa saja yang kami temukan sepanjang jalan, lanjut menjelajah.
Jelajahi Koleksi